Rabu, 25 April 2012

Review Buku Dilema PKS


Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Setelah beberapa lama tidak mengupdate blog,akhirnya berkesempatan juga untuk kembali menulis saat ini. Dalam tulisan ini,saya ingin menulis tentang buku yang baru saja saya beli dan saya baca, yaitu “Dilema PKS, Suara dan Syariah” karya Burhanuddin Muhtadi terbitan KPG. Pertama kali saya mendapatkan informasi tentang buku ini dari kawan saya yang berkunjung ke Islamic Book Fair di Jakarta pada Maret lalu. Beliau mengatkan bahwa  buku ini (Dilema PKS) menjadi primadona dalam IBF kemarin. Bahkan sebelum IBF ditutup, buku ini sudah habis di beberapa stand. Terdorong oleh rasa penasaran,esok harinya saya langsung pergi ke toko buku Gramedia di Bandung.  Dan Alhamdulillah saya berhasil mendapatkan buku ini.  Ini adalah buku kedua yang sudah saya baca yang mengulas tentang PKS (dan ditulis oleh seorang outsider PKS). Buku pertama yang saya baca adalah “Partai Keadilan Sejahtera, Ideologi dan Praksis Politik Kaum Muda Muslimin Indonesia Kontemporer” karya Aay Muhammad Fukron terbitan Teraju.  Alasan kenapa saya cukup tertarik terhadap tulisan mengenai partai ini adalah, karena menurut saya PKS merupakan salah satu partai yang paling fenomenal dalam jagad politik Indonesia saat ini. Walaupun dalam sejarah PKS belum pernah menjadi partai pemenang dalam Pemilu yang pernah diselenggarakan (bahkan masuk dalam tiga besar pun belum pernah), namun kehadirannya cukup mendapat perhatian public. Tidak hanya di Indonesia,bahkan pengamat politik manca negara pun juga menaruh perhatian terhadap partai ini. Terbukti dari literature yang digunakan Burhanuddin Muhtadi dalam menyusun buku ini pun juga banyak berasal dari tulisan pengamat politik dari manca negara yang menulis tentang PKS. Setiap apa yang dilakukan oleh partai ini,selalu menjadi konsumsi media. Mulai dari yang mengundang decak kagum hingga cacian. PKS memang selalu penuh dengan kejutan. Element of surprise.  Mungkin kata-kata ini yang bisa menggambarkan perilaku PKS. Tidak jarang manuvernya yang mendadak dan tidak diprediksi oleh orang lain sebelumnya,menimbulkan tanda tanya ataupun kejutan. Misal,keputusan menjadi partai terbuka,berlaku berbeda dengan mainstream kalangan koalisi Setgab dan lain-lain. Entah disengaja atau tidak,sepertinya unsur element of surprise yang dimiliki PKS hampir sama dengan yang selalu dilakukan oleh sebuah gerakan yang katanya menjadi inspirator PKS yaitu Ikhwanul Muslimin. Kita lihat bagaimana dulu ketika revolusi Mesir,ditengah maraknya unjuk rasa,tiba-tiba Ikhwan mengumumkan mundur dari aksi demonstrasi. Atau ketika Ikhwan melalui partai Al Hurriyyah wal ‘Adalah yang memenangi pemilu di Mesir,justru memiliih membangun koalisi dengan partai liberal daripada dengan partai An Nur yang berafiliasi terhadap islam. Entah apa maksud dibalik itu semua. Tapi menurut saya,ada unsur  “kecerdasan” tersembunyi di balik keputusan itu semua. Kecerdasan yang terkadang dipandang sebagai sikap inkonsistensi oleh sebagian pihak. Kecerdasan yang merupakan buah pemikiran berlandaskan prinsip syuro yang mucul akibat kematangan dalam bersikap dan kedewasaan dalam mengambil keputusan.

Rabu, 07 Maret 2012

Ikhlas


"Kalau ini perintah Allah, maka Dia sekali-kali takkan pernah menyia-nyiakan kami" (Siti Hajar)

"Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, semua itu tak kuhiraukan..." (Rasulullah Muhammad shalallahu 'alaihi wasalam)

"Aku kembalikan perlindunganmu dan aku ridha dengan perlindungan Allah saja" (Abu Bakar bin Abu Quafah)

"Ya Allah!! Ambil darahku hari ini sekehendakMu, sampai Engkau ridha padaku" (Thalhah bin Ubaidillah)

"Dimanapun aku mati aku tak peduli, asalkan iman tetap terpatri. Untuk Allah semua itu kulakukan, dari-Nya berkah kuharapakan, dari tetesan darah dan goresan luka.." (Khubaib bin 'Adi)

"Sungguh, Allah dan Rasul-Nya itulah nikmat dan karunia yang terbaik" (Kaum Anshar)

"Aku tidak meminta balasan dari kalian, atas jerih payah itu, sesungguhnya balasanku hanya ada di sisi Allah. Aku berlindung kepada Allah, dari perasaan telah memberi kepada umat ini, kami dari mereka dan keberadaan kami untuk mereka. Pengorbanan ini kami jadikan salah satu sarana agar mereka mau memahami dan menerami da'wah kami" (Hasan Al Bana)

Ikhlas, satu kata yg takkan pernah selesai dipelajari,
mudah dieja, namun jangan tanya seberapa berat pelaksaannya

karena Ikhlas, bukan hanya pada awalnya saja
tapi juga selama proses hingga sampai pada akhirnya,
ketika nafas terhenti
ketika Izrail menghampiri.

belajar, terus belajar,
bernafas untuk Allah, begerak untuk Allah, melangkah untuk Allah, menulis untuk Allah, bekerja untuk Allah

berupaya memaknai secara sejati : "Untuk Allah di atas segalanya"

Ya Allah, kereta ini adalah sarana bagi kami untuk berfastabiqul khairat dan menyeru kepada-Mu.
Ya Allah, kereta ini adalah sarana bagi kami untuk bergerak dalam barisan yang rapi dan solid dalam rangka mengajak orang lain menjadi penyeru di jalan-Mu.
Maka Ya Allah, jangan Engkau jadikan kereta ini membelokkan hati-hati kami dari selain-Mu.
Jadikan tiap gerak langkah kami bahkan ketika kami menstrategi, mengkonsep, dan menjalankannya, tetapkanlah kami selalu mengingati-Mu.
Tiada tujuan lain selain menegakkan dien-Mu. Kereta ini sangat kecil sekali. Ia hanya salah satu wajihah untuk menuju ke sebuah tujuan yang besar: Islam sebagai Ustadziatul Alaam

Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini
telah berhimpun dalam mencintai-Mu,
telah bertemu dalam mentaati-Mu,
telah bersatu dalam menyeru-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu,
kokohkanlah ikatannya,
kekalkanlah cintanya,
tunjukilah jalan-jalannya,
Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tak pernah pudar,
lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu
dan keindahan bertawakkal kepada-Mu,
hidupkanlah hati kami dengan ma'rifat-Mu,
wafatkanlah kami dengan syahadah di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau-lah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik pembela.
Ya Allah, amin.

Senin, 05 Maret 2012

Stereotype Gerakan

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh


"Tujuan diatas segala tujuan kita saat ini adalah membuat ummat bersatu"
-Hasan Al Banna-

Dengan mata kepala sendiri, hari ini kita menyaksikan makin banyak timbulnya gerakan-gerakan islam di dunia (harakah islamiyah). Baik itu yang ruang lingkup geraknya masih eksis hanya dalam satu negara atau ada juga yang sudah menyebar di beberapa negara di dunia. Tidak hanya negara yang mayoritas penduduknya islam, bahkan di negara yang islam merupakan minoritas. Bahkan di negara yang selama ini dicap memusuhi kaum islam. Bagaikan cendawan di musim hujan, eksistensi harakah-harakah tersebut di dunia makin bertambah marak tiap harinya. Seiring dengan kembali munculnya semangat di tiap muslimin untuk membangkitkan kembali islam. Sayang, tujuan mulia yang sama-sama dipahami masing-masing harakah tersebut, tidak membuat mereka akur dalam menjalani aktivitasnya. Seharusnya keberadaan harakah-harkah tersebut bisa kembali menyatukan umat islam dalam satu barisan,bukan lagi terpecah-pecah bagaikan buih di lautan. Apa yang kita saksikan hari ini adalah banyak harakah itu yang terjebak dalam tabanni pendapat harakahnya dan mulai menyalahkan harakah lain. Sehingga alih-alih membuka pintu persatuan, yang ada malah kejumudan pada pendapat kelompoknya sendiri. Hal ini diperparah dengan cara mereka dalam memandang islam hanya dari satu sisi saja atau orientasi mereka yang kuat pada masa lalu yang telah lewat. Sebenarnya jika kita mau menarik garis merahnya, banyak persamaan yang ada dalam harakah tersebut dimana mereka bisa bekerjasama di dalamnya. Sayangnya sebagian mereka terlalu disibukkan dengan mengungkit-ngungkit perbedaan kecil yang sifatnay furu dan khilafiyah daripada bekerja sama dalam persamaan yang lebih banyak. Sehingga terbesit dalam pikiran saya bahwa terkadang dibutuhkan suatu kesabaran yang lebih dalam berdialog dengan "tetangga-tetangga" saya aktivis harakah daripada dengan "tetangga-tetangga" yang aktivis partai sekuler. Aqidah seharusnya bisa menyatukan kita,tapi ghurur dan kesombongan sudah mulai ramai dimunculkan dan menghancurkan ukhuwah antar kita semua. Saya khawatir, jika sikap seperti itu terus dimunculkan oleh para aktivis harakah tersebut, maka persatuan islam tidak lebih dari sekedar utopia belaka.

Kamis, 01 Maret 2012

Agar Diri Menjadi Berkah (Kenapa harus menjadi mentor )

Assalmu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Menjadi orang yang mendapatkan keberkahan, tentulah menjadi cita-cita setiap orang. Kita sering mendapatkan kata berkah disandinkan dengan sesuatu hal yang bersifat agung dan bermanfaat. Barakah secara bahasa berarti kebaikan yang banyak dan tetap. Sedangkan menurut syariat berarti kebaikan yang banyak diberikan oleh Allah subhanahu wata'ala kepada siapa yang dikehendaki. Lalu bagaimana menjadi manusi yang mubarak ? dan apa kaitannya dengan menjadi murabbi/mentor ? Berikut saya ambil kutipan surat dari Ibnu Qayyim kepada Ala Al-Din, saudaranya.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اللهُ اَلْمَسْؤُوْلُ اَلْمَرْجُوُّ اْلإِجَابَةِ أَنْ يُحْسِنَ إِلَى اْلأَخِ عَلاَءِ الدِّيْنِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَيَنْفَعَ بِهِ، وَيَجْعَلَهُ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كَانَ، فَإِنَّ بَرَكَةَ الرَّجُلِ : تَعْلِيْمُهُ لِلْخَيْرِ حَيْثُ حَلَّ، وَنُصْحُهُ لِكُلِّ مَنْ اِجْتَمَعَ بِهِ. قَالَ تَعَالَى إِخْبَارًا عَنِ الْمَسِيْح أَيْ :
- مُعَلِّمًا لِلْخَيْرِ
- دَاعِيًا إِلَى اللهِ
- مُذَكِّرًا بِهِ
 مُرَغِّبًا فِيْ طَاعَتِهِفَهَذَا مِنْ بَرَكَةِ الرَّجُلِ، وَمَنْ خَلاَ مِنْ هَذَا، فَقَدْ خَلاَ مِنَ الْبَرَكَةِ، وَمُحِقَتْ بَرَكَةُ بَقَائِهِ وَالاِجْتِمَاعِ بِهِ، بَلْ تُمْحَقُ بَرَكَةُ مَنْ- لَقِيَهُ وَاجْتَمَعَ بِهِ، فَإِنَّهُ يُضَيِّعُ الْوَقْتَ فِي الْمَاجِرِيَّاتِ، وَيُفْسِدُ الْقَلْبَ، وَكُلُ آفَةٍ تَدْخُلُ عَلَى الْعَبْدِ فَسَبَبُهَا ضَيَاعُ الْوَقْتِ، وَفَسَادُ الْقَلْبِ، وَتَعُوْدُ بِضَيَاعِ حَظِّهِ مِنَ اللهِ وَنُقْصَانِ دَرَجَتِهِ وَمَنْزِلَتِهِ عِنْدَهُ، وَلِهَذَا وَصَّى بَعْضُ الشُيُوْخِ فَقَالَ : اِحْذَرُوْا مُخَالَطَةَ مَنْ تُضَيِّعُ مُخَالَطَتُهُ اَلْوَقْتَ، وَتُفْسِدُ الْقَلْبَ، فَإِنَّهُ مَتَى ضَاعَ الْوَقْتُ، وَفَسَدَ الْقَلْبُ اِنْفَرَطَتْ عَلَى الْعَبْدِ أُمُوْرُهُ كُلُّهَا، وَكَانَ مِمَّنْ قَالَ اللهُ فِيْهِوَمَنْ تَأَمَّلَ حَالَ هَذَا الْخَلْقَ وَجَدَهُمْ كُلَّهُمْ – إِلاَّ أَقَلَّ الْقَلِيْلِ – مِمَّنْ غَفَلَتْ قُلُوْبُهُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى وَاتَّبَعُوْا أَهْوَاءَهُمْ، وَصَارَتْ أُمُوْرُهُمْ وَمَصَالِحُهُمْ فُرُطًا، أَيْ فَرَطُوْا فِيْمَا يَنْفَعُهُمْ، بَلْ يَعُوْدُ بِضَرَرِهِمْ عَاجِلاً وَآجِلاً 

Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.
Allahlah Dzat tempat kita meminta Yang Diharap Keterkabulannya. Semoga Dia berbuat ihsan kepada al-akh ‘Ala’ al-Din di dunia dan akhirat, menjadikannya orang yang bermanfaat dan membawa keberkahan di mana pun ia berada. Sebab, keberkahan seseorang ada pada:
  • Pengajarannya terhadap segala macam kebajikan di mana pun ia berada, dan
  • Nasehat yang ia berikan kepada semua orang yang ijtima’ (berkumpul, rapat) dengannya.
Saat menceritakan tentang nabi ‘Isa ’alaihi al-salam, Allah subhanahu wa ta’ala- berfirman:
“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada”. (Maryam: 31)
Nabi ‘Isa ‘alaihi al-salam menjadi manusia yang membawa berkah adalah karena ia:
  1. Menjadi guru kebajikan
  2. Juru dakwah yang menyeru manusia kepada Allah subhanahu wa ta’ala
  3. Mengingatkan manusia tentang Allâh subhanahu wa ta’ala
  4. Mendorong dan memotivasi manusia untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala
Inilah bagian dari keberkahan seseorang, siapa saja yang tidak memiliki hal ini, maka, ia telah kosong dari keberkahan, keberkahan eksistensi dan ijtima’ (berkumpul, rapat) dengannya telah dihapus, bahkan, keberkahan orang-orang yang liqa’ (bertemu) dan ijtima’ (berkumpul, rapat) dengannya juga dihapuskan, sebab, ia hanyalah:
  1. Membuang-buang waktu dalam kehidupan, dan
  2. Merusak hati.
Dan semua afat (bencana, problem, musykilah) yang datang kepada seorang manusia, penyebabnya adalah waktu yang tersia-sia dan hati yang rusak, dan keduanya merupakan akibat dari:
  1. Tersia-sianya “posisi” dia di sisi Allâh subhanahu wa ta’ala-, dan
  2. Turunnya tingkatan dan kedudukan dia di sisi Allâh subhanahu wa ta’ala
Oleh karena inilah, sebagian masyayikh berpesan:
“Waspadalah, jangan mukhalathah (berkumpul, bergaul) dengan seseorang yang menyebabkan waktu terbuang sia-sia dan menyebabkan hari rusak, sebab, jika waktu telah terbuang sia-sia, dan hati rusak, maka segala urusan manusia menjadi berantakan, dan ia termasuk dalam cakupan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (Al-Kahfi: 28).
Dan siapa saja yang mencermati keadaan manusia di bumi ini, ia akan mendapati bahwa mereka – kecuali sangat-sangat sedikit – termasuk dalam kategori:
  1. Orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah subhanahu wa ta’ala-
  2. Orang-orang yang mengikuti hawa nafsu
Akibatnya, segala urusan dan kemaslahatan mereka menjadi tercerai berai, tidak membawa manfaat kepada mereka, bahkan madharatnya malah menimpa mereka, baik urusan di dunia maupun akhirat.



Dari kutipan panjang di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa kita catat untuk kehidupan dakwah kita sekarang ini, antara lain:

Seseorang dapat menjadi sumber keberkahan, manakala memiliki sifat dan karakter sebagai berikut:
          1.  Menjadi guru untuk segala macam kebaikan
          2.  Memberi nasihat kepada semua orang yang ia temui dan yang berkumpul dengannya
          3.  Menjadi juru dakwah yang mengajak manusia untuk kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala
          4.  Menjadi pengingat manusia agar mereka tidak lalai
          5.  Memotivasi manusia untuk terus taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Wallahu'alam
*disadur dari taujih Musyafa Ahmad Rahim

Rabu, 08 Februari 2012

Coklat Berbalut Tausiyah


Assalmu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya?

Sebuah sindiran yang cukup ‘menohok’, yang disampaikan ustadz Rahmat Abdullah tersebut disampaikan dalam tulisannya yang berjudul “Kematian Hati”. Memang sekarang ini, fenomena ‘terlalu cairnya’ hubungan antar insan  yang menisbatkan dirinya sebagai aktivis dakwah cukup marak. Mulai dari sekedar memberi tausiyah,saling mengingatkan,hingga bercanda yang sudah kelewat batas, bahkan hingga ke komunikasi yang tidak seharusnya.Penulis tidak memungkiri bahwasannya komunikasi antar sesama manusia memanglah penting. Tak terkecuali bagi aktivis dakwah. Namun penulis sangat menyayangkan jika komunikasi yang kelewat batas seperti itu dilakukan dalam bingkai aktivitas dakwah, yang seharusnya murni dan bebas dari perbuatan semacam itu. Penulis tidak melarang jika seseorang ingin bercanda dengan lawan jenis yang bukan mahram nya. Tapi jangan kotori aktivitas dakwah dengan kegitan seperti itu. Ibarat kata, jika anda termasuk orang yang menganggap bahwa merokok di depan umum adalah hak setiap orang, maka setidaknya janganlah merokok di tempat yang terdapat tulisan “Dilarang Merokok”. Masih banyak tempat lain yang memperbolehkan anda untuk merokok.

Memang mengingatkan sesama muslim adalah suatu keharusan.watawaa shoubil haqqi watawaa shoubisshobr. Tapi apakah harus lintas gender jika kita ingin menasehati sesama muslim ? apakah sudah tidak ada lagi saudara kita yang se gender yang butuh di nasehati ? Memang terkadang seorang qiyadah perlu untuk mengayomi jundiy nya. Tapi jangan jadikan itu sebagai pembenaran untuk seorang qiyadah – yang biasanya laki-laki – untuk bertausiyah ke staff nya yang perempuan. Karena itulah dalam kredo organisasi islam, diperlukan yang namanya koordinator akhwat. Biar beliaulah yang menjalankan fungsi pengayoman kepada staff-staffnya yang perempuan. Kalau ternyata koordinatornya akhwat nya pun galau, dan selalu butuh di beri tausiyah, lebih baik ganti saja koordinator akhwatnya. Karena itu artinya, dia belum bisa menjalankan fungsinya sebagai pengayom. Jangan selalu berdalih “semuanya dikembalikan ke hati masing-masing”. Ingat, biar bagaimanapun juga komunikasi itu melibatkan dua pihak, pengirim dan penerima. Putihnya pengirim, belum tentu putihnya penerima. Bisa jadi ia menjadi merah muda. Lalu bukan berarti itu salah si penerima juga. Bukankah dalam maqashid syariah dikenal prinsip "bahwa mencegah kerusakan itu lebih diutamakan daripada menarik kemanfaatan".

Minggu, 15 Januari 2012

Semoga ini bukan dosa

(re-blog catatan Baihaqi)
Assalamu’alaikum wr.wb.

Tak terasa tiga tahun aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan aku atau dirimu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu. Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.

Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci. Dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku. Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.

Sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa dan begitu amat perih. Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku. Ketentramanmu adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.

Andai aku boleh berdoa kepada Tuhan, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yang membuat hati ini terus mengingatmu. Jarang aku memandang wanita, namun satu pandangan saja mampu meluluhkan bahkan melumpuhkan hati ini.

Kamis, 12 Januari 2012

Akar Sejarah Konflik Palestina

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Muqaddimah
Belakangan ini isu-isu mengenai Palestina kerap mencuat menyusul penyerangan Israel ke Jalur Gaza khususnya dan Palestina pada umumnya. Kebanyakan kaum muslimin di dunia bahkan termasuk di Indonesia mengecam dan mengutuk serangan tersebut dan memperlihatkan dukungannya untuk Palestina dan Hammas.

Timur Tengah merupakan kawasan dimana tiga agama Samawi diturunkan dan menjadikannya sebagai kawasan suci bagi umat Yahudi, Nasrani, dan Islam. Hal ini yang melatarbelakangi terjadinya Perang Salib dalam kurun waktu ratusan tahun. Tidak hanya perang salib, dalam era modern sekalipun konflik dikawasan Timur Tengah masih sering bergejolak, seperti perang Iran-Irak, Irak-Kuwait, invasi Amerika Serikat ke Irak dan Afganistan, dan konflik Israel-Palestina yang sudah lama berlangsung hingga sampai pada detik ini. Entah sudah berapa ratus, ribu bahkan jutaan manusia mati begitu saja, baik dari pihak Israel maupun Palestina. Meskipun sudah memakan banyak korban baik harta maupun jiwa sekalipun konflik Palestina-Israel tak kunjung usai. Bahkan lembaga Internasional sekalipun (PBB) tak dapat menghentikan tragedi kemanusiaan di kawasan Timur Tengah khususnya dalam konflik Israel-Palestina. Kedua entitas politik ini telah “bertarung” di kawasan Timur Tengah semenjak berdirinya negara Israel pada tahun 1948.

Kebrutalan Israel tehadap rakyat Palestina bukan terjadi karena insiden, akan tetapi lebih kepada tidak pedulinya Israel terhadap kemanuasiaan. Dengan membombardir sekolah milik PBB di kemp pengunsian adalah salah satu contoh ketidakpedulian tersebut. Ada pula keluarga dikumpul dalam satu rumah dan kemudian dihajar dengan mengunakan garanat.

Untuk melihat peta permasalahan Palestina - Israel ini lebih dalam lagi, tulisan sederhana berikut ini mudah-mudahan dapat memberi sedikit pengetahuan kepada kita tentang lembaran-lembaran sejarah masa lalu, sedang dan yang akan terjadi. Karena dengan membaca sejarah kita akan dapat melihat dan meletakkan suatu perkara itu pada tempatnya.

Sejarah singkat Konflik Palestina