Aku rindu ramadhan
tapi bukan rindu pada kemeriahan suasana dalam menyambutnya
bukan pula rindu pada keceriaan saat berkumpul bersama keluarga
bukan pula rindu pada maraknya hiburan di tv saat menjelang buka dan sahur
bukan pula rindu pada takjil dan manisnya kurma
bukan pula rindu pada kesenangan saat mendengan petasan
tapi aku rindu
rindu melihat masjid yang penuh saat isya dan subuh
rindu mendengar orang bertadarus di masjid hingga larut malam
rindu melihat orang yang menunggu bis samabil memegang al quran,bukan handphone atau blackbery
rindu melihat orang sangat berhati-hati menjaga perkataanya
rindu melihat orang tidak berpikir panjang dalam berderma
Ya Allah,pertemukanlah aku dengan ramadhan tahun ini
atau jikapun tidak, maka jadikanlah sebelas bulan kedepan seperti bulan ramadhan
karena ketaatan dalam menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu bukan hanya untuk satu bulan ini saja
Senin, 23 Juli 2012
Sabtu, 07 Juli 2012
Kapan Kita Bisa Berlebaran Bersama Lagi ?
*tulisan ini dimuat di fimadani
Ramdhan
1433 Hijriah sudah dekat, sangat dekat malah. Bahkan saking dekatnya, aromanya
pun sudah tercium mulai dari sekarang. Aroma kebahagian dan sukacita dalam
menyambut bulan baik itu diekspresikan oleh masyarakat dengan berbagai cara.
Mulai dari penyebaran pesan di media publikasi umum, ceramah-ceramah, bahkan
dengan event-event keagamaan khusus yang diselenggarakan dalam rangka menyambut
Ramadhan. Bagi masyarakat Indonesia, Ramadhan dan Iedul Fitri memiliki ke khasan
tersendiri sehingga moment ini sangatlah dinanti. Ritual Mudik atau pulang ke
kampung halaman dan berkumpul dengan sanak saudara merupakan hal khusus lain yang
dinanti oleh masyarakat kita. Memang pulang ke kampung halaman atau hanya
sekedara berkumpul dengan keluarga bisa dilakukan kapan saja, tidak harus
menunggu lebaran atau Ramadhan. Namun berkumpul dengan keluarga pada momentum
ini memberikan suasana berbeda daripada ketika dilakukan pada hari biasa.
Namun
dalam Ramadhan kali ini, pemerintah kita menyisakan satu pekerjaan rumah dari
perayaan lebaran tahun lalu yang sayangnya sampai sekarang belum terselesaikan.
Masih terbekas dalam ingatan kita tragedi “opor basi” atau yang lebih umumnya
adalah perbedaan penetapan kapan Iedul Fitri 1432 Hijriah kemarin, sempat
menimbulkan polemik tersendiri di masyarakat kita. Paska lebaran tahun lalu
sempat beredar wacana penyatuan tanggal Hijriah. Namun sepertinya hal itu gagal
terwujud. Pemerintah yang seharusnya memiliki pengaruh yang kuat di hadapan
warga negaranya, mulai kehilangan kewibawaannya. Sehingga jangankan untuk
mewujudkan momentum penyatuan kalender Hijriah, hasil sidang itsbat yang
semestinya bisa dijadikan patokan dalam menentukan kapan mulai puasa, kapan
lebaran dan beberapa event lain dalam kalender islam pun sudah kehilangan keskaralannya
untuk dipatuhi dan dilaksanakan bersama oleh semua masyarakat.
Tujuan
utama dari adanya regulasi yang dibuat pemerintah sebenarnya bukanlah untuk
memaksakan suatu peraturan kepada rakyatnya. Melainkan untuk mencegah
terjadinya konflik sosial di lapisan masyarakat bawah. Memang konflik sosial
yang muncul dari perbedaan penetapan lebaran tahun lalu tidak sampai berujung
pada pertikaian fisik antar kelompok, kerusuhan atau tindakan anarkis lainnya.
Sudah cukup jenuh masyarakat kita disuguhi tindakan-tindakan kekerasan seperti
itu. Konflik yang timbul memang masih dalam lingkup pertikaian verbal yang
dapat kita lihat dengan adanya perang opini yang sempat marak dalam jejaring sosial
dan media elektronik. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa hal ini menyebabkan
keresahan di masyarakat. Tidak adakah satu momentum khusus dimana kita bisa
merayakan hari raya bersama dengan penuh sukacita tanpa harus dibumbui
pertikaian?
Senin, 25 Juni 2012
Ikhwanul Muslimin Paska Pemilu
*tulisan ini sudah dimuat di Dakwatuna
Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ahad 24 Juni waktu setempat, Lapangan Tahrir kembali dibanjiri oleh
ribuan masa dari segala penjuru Mesir. Namun kali ini mereka datang bukan untuk
berunjuk rasa. Alih-alih mereka semua larut dalam suasana penuh kesyukuran dan haru,
bersujud menayapaikan rasa terima kasihnya kepada Allah atas nikmat yang telah
berikan. Karena sesaat sebelumnya, lembaga penyelenggara pemilu setempat secara
resmi mengeluarkan pernyataan bahwa Dr Muhammad Mursi sebagai pemenang dalam
pemilihan umum presiden Mesir. Suatu kemenangan yang tidak hanya di syukuri
oleh para anggota Ikhwanul Muslimin, organisasi pengusung Mursi untuk maju
dalam pilpres Mesir melalui sayap politiknya Partai Keadilan dan Kebebasan, namun
juga disyukuri oleh masyarakat Mesir lainnya yang memilih dan menaruh harapan
besar di pundak Mursi.
Rentetan peristiwa yang diawali dari Revolusi Yasmin yang berhasil
menggulingkan diktator Mubarak dari kursi presidennya, lalu berlanjut dengan
diselenggarakan pemilu parlemen yang mengantarkan Partai Keadilan dan Kebebasan
sebagai partai peraih suara terbanyak dalam pemilu parlemen, dan ditutup dengan
peristiwa terpilihnya Muhammad Mursi yang juga kader partai ini sebagai
Presiden terpilih Mesir melalui pemilu, tentunya tidak pernah dibayangkan oleh
Ikhwanul Muslimin bakal terjadi secepat ini sebelumnya. Walaupun bisa jadi, Ikhwan sebenarnya sudah memvisikan hal
ini sejak lama. Namun jangan dimaknai bahwa memenangkan pemilu adalah tujuan
akhir dari Ikhwan. Karena terlalu sederhana jika tujuan dari amal politik
Ikhwan dimaknai hanya untuk memperoleh kemenangan dalam pemilu. Ada tujuan yang
jauh lebih besar, jauh lebih mulia dari itu. Dan memenangkan pemilu hanyalah salah
satu anak tangga dari puluhan anak tangga yang masih harus dilalui Ikhwan.
Meskipun Ikhwan sudah memenangkan kedua pemilu tersebut, namun jalan
yang akan dilalui Ikhwan kedepannya belumlah mulus. Husni Mubarak yang dulu
sangat berambisi untuk memberangus Ikhwan kini memang tengah duduk di kursi
pesakitan. Namun sejatinya pihak yang sangat ingin menghacurkan Ikhwan bukanlah
Mubarak, Shafiq atau bahkan Dewan Militer Mesir. Ada dalang yang lebih besar
disana, atau bisa dibilang ada invisible
hand, jika penulis boleh meminjam istilah yang dipopulerkan oleh Adam
Smith, walaupun pemaknaannya berbeda. Invisible Hand yang mencengkeram hampir
semua pilar pemerintahan Mesir, sehingga memaksa beberapa elit untuk bermusuhan dengan
saudaranya sendiri. Baru-baru ini Dewan Militer Mesir melakukan pembubaran
parlemen dan pembekuan konstitusi, suatu hal yang belum pernah terjadi
sebelumnya. Dewan Militer mengumumkan bahwa mereka mengambil alih kewenangan
legislatif selama tidak ada parlemen. Padahal sebelumnya Militer menyatakan
bahwa mereka akan menyerahkan kekuasaan pada pemerintahan yang terpilih pada
bulan Juni ini. Namun beberapa manuver ini mengindikasikan bahwa sebenarnya
militer tidak ingin menyerahkan kekuasaan pada pemerintahan sipil. Beberapa
pengamat mengatakan bahwa upaya yang dilakukan oleh Dewan Militer ini bertujuan
untuk mencegah tersingkirnya mereka dari poros kekuasaan dan upaya untuk
mempertahankan eksistensi sisa rezim Mubarak.
Minggu, 10 Juni 2012
Tarbiyah ini untuk siapa ?
Asslamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
Tarbiyah. Awalanya kata ini merupakan kata yang asing di telinga. Saya baru mengenal kata tarbiyah (dan juga sistem tarbiyah itu sendiri) ketika saya pertama kali kuliah di kampus STT Telkom Bandung. Dulu waktu SMA,saya bisa dikatakan termasuk anak begajulan. Ya walaupun tidak pernah sampai berkelahi dan tawuran,tapi dulu aktivitas saya sangat jauh dari aktivitas keagamaan. Barulah ketika saya menjejakkan kaki di kampus ini, dan dipertemukan dengan aktivitas mentoring agama (embrio awal tarbiyah),disinilah saya mulai bersinggungan dengan tarbiyah itu sendiri.
Awalnya saya tidak terlalu merasakan keuntungan dari tarbiyah tersebut. Pada waktu awal saya bahkan merasa,justru tarbiyah lah yang membutuhkan saya,dan orang-orang seperti saya. oleh karena itu tidak heran jika para mentor (pengelola satu kelompok mentoring) sangat rajin untuk menekankan akan datang dalam tarbiyah, tanpa suatu alasan yang bisa saya terima secara logis waktu itu. Namun seiring waktu berjalan,perasaan dalam diri saya mulai berubah. Ada hal lain yang mebuat hati saya selalu tergerak untuk datang dalam aktivitas mentoring waktu itu. Ada hal yang berbeda ketika saya sempat terputus dari tarbiyah. Saya tidak merasakan lagi adanya siraman ketenangan yang walaupun hanya sepekan sekali namun itu sangat menentramkan. Saya tidak merakasan lagi ada orang yang selalu menanyakan kabar saya,tidak hanya kabar kesehatan jasmani,namun juga kabar kesehatan iman. Saya tidak merasakan lagi adanya sebuah visi besar yang rupanya selama ini selalu didengungkan oleh sang mentor,namun hati saya masih bias dalam menangkapnya sehingga saya tidak bisa mencernanya. Dan akhirnya saya menyadari bahwa pada dasaranya bukan tarbiyah yang membutuhkan kita,namun kitalah yang membutuhkan tarbiyah.
Disinilah kami bertemu,dengan wajah-wajah teduh yang memancarkan keimanan. Disinilah kami belajar,mengenal lebih dalam menyelami keindahan agama yang sempurna dan lengkap aturannya. Disini kami bersaudara,menyadari bahwa iman menyatukan kami,walaupun berbeda rupa,suku dan asal keluarga. Disini kami berubah untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik,dari kegelapan menuju cahaya. Disini kami merajut cita dan menjadi generasi islam, menjadi representasi islam yang menebarkan kebaikan dan rahmat bagi alam semesta.
Sudah lebih dari empat tahu saya merasakan tarbiyah,dan saya mulai merasakan dampak yang signifikan pada saya. Saya kini tidak lagi hanya berposisi dalam "menerima", tapi saya juga harus bisa "memberi". Karena surga itu terlalu luas untuk dinikmati sendiri. Minimal saya ingin orang lain merasakan apa yang saya rasakan sekarang. Tapi jalan tarbiyah tidak semulus sperti yang dibayakangkan. Lebarnya tak bertepi dan pangkalnya tak berujung. Salah satu ujian yang datang adalah ketika beredar stigma pada peserta tarbiyah tentang siapa yang berada dibelakang tarbiyah. Stigma negatif yang mengatakan bahwa tarbiyah tidak lain hanya sekedar bertujuan merekrut konstituen,barisan pendukung terhadap kelompok tertentu. Dan stigma ini pun sempat menimpa saya. Jika kita ingin menanyakan tentang suatu sistem,maka tanyalah kepada orang yang di sistem tersebut. Akhirnya saya memberanikan diri bertanya kepada murabbi saya, murabbi saya pun menjawab dengan jawaban yang sudah saya duga.
Sabtu, 19 Mei 2012
Dialog Imajiner Seorang Ibu dan Anaknya
Suatu hari
seorang anak laki-laki bertanya pada Sang Ibu...
“Bu, jika
kelak anakmu ini akan menikah. Istri seperti apa yang mesti kupilih?”
Sang ibu
yang bijak pun menjawab,“Nak, seorang istri yang baik adalah dia yang saat kau
pandang hilang resahmu.Saat kau bersamanya tentram hatimu. Saat kau pamit
menjemput rizki, ia lambaikan tangan sambil mendo’akanmu...”
“Tapi Bu...
Aku kan belum tahu sifatnya. Bagaimana aku dapat mengenalnya” Sang Anak
menyela.
Sang Ibu
menjawab “Nak... jika kau ingin melihat kasih sayangnya padamu, lihatlah
bagaimana ia memuliakan ayah bundanya. Jika kau ingin tahu apakah ia kasih
terhadap anak-anakmu kelak, lihatlah perlakuannya terhadap adik kakaknya.”
Sang Anak
termenung sejenak...
Sang Ibu
menandaskan kembali
“Nak...
jodohmu sudah ada ditangan-Nya. Jangan pernah khawatir. Khawatirlah jika kau
belum bisa memperbaiki diri. Khawatirlah bila engkau belum pantas menjadi suami
bagi pendampingmu. Khawatirlah jika ibadahmu hanya tuk dilihat olehnya. Padahal
Dia yang memberikannya untukmu....
Nak,
perbaiki akhlaqmu, maka kau kan dapatkan pujaan hatimu.
Luruskan
niatmu, maka kau kan dapatkan bidadari dunia akhiratmu.
sempurnakan
ikhtiarmu, maka jodohmu kan mendekat padamu” pesan sang Ibu
Namun
pernikahan begitu indah kudengar
membuat
kuingin segera melaksanakan
namun bila
kulihat aral melintang pukang
hatiku
selalu maju mundur dibuatnya
Akhirnya aku
segera tersadar
hanya kepada
Allahlah tempatku bersandar
yang akan
menguatkan hati yang terkapar
Insya Allah
azzamku akan terwujud lancar
Sang Ibu pun tersenyum dan mendoakan sang putera
Senin, 14 Mei 2012
Liqo oh Liqo
liqo oh liqo
nasibmu malang nian
dijadikan pelarian
oleh orang yang tak punya kepribadian
merasa sudah aman dengan sebutan "ikhwan"
padahal ilmu dan amal bagai utara dan selatan.
liqo oh liqo
kau sering dijadikan status palsu
oleh oknum yg selalu ingin terlihat maju
walau hidupnya hanya segitu
liqo oh liqo
kau didatangi ketika dibutuhkan
kau dihindari ketika mereka sibuk pacaran
kau dicaci maki ketika tidak sesuai harapan
tapi tenang sajalah Allah tak mungkin salah kasih keputusan.
liqo oh liqo riwayatmu kini..
(oleh akun anonim Pasukan Islam Pejuang Syariat)
Rabu, 09 Mei 2012
Aku malu pada Mu
Terkadang timbul rasa malu di
hati ini ketika kita bertemu atau menampakkan wajah di hadapan orang yang
pernah kita berbuat salah padanya.Tapi entah kenapa tidak terbesit rasa malu
sedikitpun di hati ini ketika kita menghadapkan wajah kita kepada Allah dalam
shalat kita,dengan segala dosa yang kita miliki. Bahkan dengan pede nya kita
berucap "inni wajjahtu wajhiya"
Perasaan bersalah yang terkadang
muncul di hati ini ketika kemaksiatan itu terjadi,kita kubur dengan sebuah
pembelaan yang berusaha kita munculkan bahwa Allah Maha Pemaaf. Pernyataan ini
benar,tapi ada tujuan batil yang kita inginkan disana. Jangan lihat besar
kecilnya perbuatan maksiat yang kita lakukan,tapi lihatlah kepada siapa kita
berbuat maksiat. Allah memang Maha Pemaaf,tapi jangan jadikan itu sebagai
legalisasi bagi kita untuk melakukan “kemaksiatan sepele”. Ingat tidak ada hal
yang sepele dalam agama.
Tak terhitung sudah berapa puluh
janji yang kita utarakan kepada Allah. Sudah tak terhitung juga sudah berapa
janji yang tidak kita tepati kepada Allah. Bahkan mungkin banyak juga janji
yang sudah tidak kita ingat. Disadari atau tidak,dalam hal menepati janji
kepada Allah,kita kalah dengan iblis. Dulu iblis pernah berjanji kepada Allah
bahwa mereka akan terus menyesatkan anak cucu adam hingga akhir masa nanti. Dan
sampai saat ini iblis masih memegang teguh janji itu.
Ketika berbicara masalah
kesalahan ,kita sering berkilah dengan pembelaan bahwa sudah menjadi fitrah
manusia menjadi tempatnya salah dan dosa. Tapi ketika berbicara masalah kewajiban,kita
seolah lupa bahwa tujuan pencipataan manusia adalah beribadah kepada Allah.
Tidak terhitung sudah berapa malam kita siakan, sudah berpa waktu mustajab kita
buang percuma,sudah berapa ladang amal yang kita acuhkan begitu saja. Urusan duniawi
telah melalaikan kita. Dan dalam setiap waktu itu, hati kita berdesir mengucapkan
“Allah maaf,aku sedang sibuk”.
Duh Gusti,begitu banyak kesalahan
yang sering hamba perbuat kepada-Mu. Tapi Kau tidak pernah berhenti memberikan
kasih dan sayang pada hamba. Semoga hamba bisa terus mengabdi pada mu. Seperti apa
yang selalu hamba ucapkan kepada Mu setiap hari dalam shalat hamba bahwa “sesungguhnya
shalatku,ibadahku,hidup dan matiku hanya untuk Allah,Tuhan semesta alam”
Langganan:
Postingan (Atom)

